Senin, Maret 11

Terperangkap Rasa

Terperangkap Rasa
Bagiku,
Cinta adalah hal terumit dan termulya.
Namun aku paham,
Cinta bukan tentang mengapa
Juga bukan tentang seberapa
Cinta lebih dari padanya.

Aku manusia, pernah bangkit, pernah jatuh,
pernah bahagia, pernah berkabung,
pernah terperangkap, tertarik, terbuai,
pernah menolak, menerima, membuai,
dan yang terbodoh adalah menanti.

Bagiku,
Cinta tidak membimbangkan.
Cinta juga tidak membutakan.
Pun cinta tidak mengekang.

Manusia yang bimbang,
Manusia yang buta
Manusia yang mengekang
Dan kadang terkekang.

Cinta itu bebas,
Bak sayap yang membawa manusia terbang
Membawa rasa, menikmati asa.
Membawa sukma, menembus jagat

Namun aku juga menyadari,
Cinta terkadang membawa pedih
Menusuk perih tak tertahan
Saat ia terpatahkan.

Bagiku,
Cinta adalah hal tertinggi dan termulya.
Ketika pertanyaan “mengapa” sudah terjawab,
Ia membawa kita pada pertanyaan “bagaimana”
Intensitas tidak membuktikan seberapa besar,
Konsistensilah yang menjaga cinta itu terus meluap.

Bodoh memang mengharapkanmu,
Tak sadar tajamnya pedang yang menusukku,
Angan yang terbalut impian semu, hanya menjadi asa
Sayap terkoyak oleh rasa yang tak kunjung terbalas

Hadirmu tak pernah kusangka
Kau membawa rasa yang tak tersapa
Meninggalkan hati yang tersayat
Menyisakan luka yang masih menganga

Satu nama kan terus ku ucap
Tak kan terlewat di setiap doa
Mencintaimu adalah wajib
Akan ku ukir di dalam nadi

Cinta adalah kebebasan hati
Meski itu berarti menanti
Meski itu tiada berarti
Sampai nanti, sampai kita bisa memulai lagi
Mungkin.

Teruntuk dikau, jiwa yg riang.
Dari hamba, jiwa yang terbuang.



Surakarta, 29 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar