Senin, Maret 11

Sendu di Balik Senja

Sendu di Balik Senja

Aku tahu, senja itu indah,
Tapi mungkin hari ini tidak.
Senja tertutup mendung.
Sendu.

Aku memilih untuk sendiri
Dilahap sendu dalam imaji,
Dikala senja yang menguning
Dibalik rintik hujan yang gerimis.

Aku tak lagi tentu,
Apakah senja masih jujur
Atau kah ia juga penipu
Sama seperti malam dahulu.

Malam tak selalu menipu,
Mungkin ia hanya melebur,
Larut dalam senja yang sendu,
Yang membawa gelisah dan risau,
Menanti sang syamsu.

Fajar pagi bak mengangkut asa
Meski selalu terbesit was-was,
Ia seakan membawa harapan anyar
Namun faktanya,
Hanya hari lain dari sebuah keresahan.

Kembali pada senja,
Menguning di ufuk barat
Tersingkap mentari yang lelah,
Merekah di balik gulungan awan.

Senja masih jujur.
Aku yang tak pernah jujur.
Bersembunyi di balik awan kuningnya,
Berharap dia menyibaknya.





Surakarta, 22 Januari 2018

Terperangkap Rasa

Terperangkap Rasa
Bagiku,
Cinta adalah hal terumit dan termulya.
Namun aku paham,
Cinta bukan tentang mengapa
Juga bukan tentang seberapa
Cinta lebih dari padanya.

Aku manusia, pernah bangkit, pernah jatuh,
pernah bahagia, pernah berkabung,
pernah terperangkap, tertarik, terbuai,
pernah menolak, menerima, membuai,
dan yang terbodoh adalah menanti.

Bagiku,
Cinta tidak membimbangkan.
Cinta juga tidak membutakan.
Pun cinta tidak mengekang.

Manusia yang bimbang,
Manusia yang buta
Manusia yang mengekang
Dan kadang terkekang.

Cinta itu bebas,
Bak sayap yang membawa manusia terbang
Membawa rasa, menikmati asa.
Membawa sukma, menembus jagat

Namun aku juga menyadari,
Cinta terkadang membawa pedih
Menusuk perih tak tertahan
Saat ia terpatahkan.

Bagiku,
Cinta adalah hal tertinggi dan termulya.
Ketika pertanyaan “mengapa” sudah terjawab,
Ia membawa kita pada pertanyaan “bagaimana”
Intensitas tidak membuktikan seberapa besar,
Konsistensilah yang menjaga cinta itu terus meluap.

Bodoh memang mengharapkanmu,
Tak sadar tajamnya pedang yang menusukku,
Angan yang terbalut impian semu, hanya menjadi asa
Sayap terkoyak oleh rasa yang tak kunjung terbalas

Hadirmu tak pernah kusangka
Kau membawa rasa yang tak tersapa
Meninggalkan hati yang tersayat
Menyisakan luka yang masih menganga

Satu nama kan terus ku ucap
Tak kan terlewat di setiap doa
Mencintaimu adalah wajib
Akan ku ukir di dalam nadi

Cinta adalah kebebasan hati
Meski itu berarti menanti
Meski itu tiada berarti
Sampai nanti, sampai kita bisa memulai lagi
Mungkin.

Teruntuk dikau, jiwa yg riang.
Dari hamba, jiwa yang terbuang.



Surakarta, 29 Desember 2017

Rabu, Maret 6

Jarak Sang Rindu

Jarak Sang Rindu
Maaf
Aku tak pandai berretorika
Aku tak pandai menulis
Aku tak pandai berucap manis
Aku tak pernah bisa meramu kata yang pas untuk dirimu

Sukmaku kembali pulang
Kepada sang rumah
Dari tualang tak berarah
Sekarang benar-benar berpulang

Waktuku termakan sesak
Rinduku terpupus jarak
Pikiranku terjerumus ragu
Namun percayalah, rasaku menembus semuanya itu.
Untukmu.


Surakarta, 9 Oktober 2018

Senin, Maret 4

Sajak untuk Puan

Sajak untuk Puan
Kita berdua adalah kisah tanpa cerita.
Terpisah, namun tidak pernah mencoba mencari.
Saling merayu, tanpa pernah mencoba bersatu.
Membuang realitas dan tak sadar batas.

Mungkin bukan “kita”, hanya ada “saya”.
Mungkin bukan puan, hanya hamba.
Hanya hamba yang terlalu berangan, ‘tuk menyanding puan.
Hamba hanya berangan, tak pernah berani menjajal.
Hamba terlalu rendah untuk puan yang begitu melangit.
Hamba tidak patut bersaing dengan bintang-bintang gemerlap yang juga mendamba puan.

Kita berdua adalah kisah tanpa cerita.
Menabur rasa, namun hanya menuai kenangan.
Membuka jalan, tapi tak pernah melaluinya.

Kita berdua adalah kisah tanpa cerita.
Tak pernah memulai, namun berakhir



Salatiga, 22 Mei 2017

NIHIL

NIHIL
Senja yang tak lagi sendu menemaniku meramu kata dalam sajak rindu yang tak menentu mau kemana.
Gemerlap bintang malam menyinari rasa yang tak lagi sama saat kita menenun kisah kita.
Hamba ingin kembali ke masa itu, masa dimana puan begitu dekat untuk hamba raih, masa dimana begitu besar harapan untuk hamba.
Dan akhirnya, hamba tak menemukan ramuan kata, hanya alunan rasa yang terus bergelora menggebu dalam hati dan tak tersampaikan.


Salatiga, 27 Juni 2017

Senin, Februari 25

Senja dalam Rintik

Senja dalam Rintik

Sore ini rintik menghampiri
Ia membawa kenanganku kembali
Setiap kenangan
Mereka bergilir, berputar di dalam kepala
Di dalam angan rasaku bergelora

Senjaku tak menguning
Ia terbalut rintik di sore ini
Anganku tentangmu terus terngiang
Kau terus berputar dalam bising rintik tak menentu
Dalam angan, ku hanya terdiam

Aku menyepi dari hiruk pikuk
Bercumbu dengan bayangmu dalam anganku
Sampai tak sadar rintik mulai menjauh
Malam pun hadir membawa ragu
Membuatku gusar dan semakin takut kehilanganmu

Sekarang, rintik telah lenyap
Begitupun kenangan yang tadi menggunung
Dan benar memang,
Sekarang aku sedang merindukanmu

Hati tak Pernah Berdusta

Hati tak Pernah Berdusta
Rasa yang sudah lama ingin ku hapus, ternyata tidak benar benar pupus
Pikiranku masih ingin mencabik rasaku
Ragaku masih sibuk menghempas fokusku

Namun sungguh benar, hati tak bisa berdusta
Rasaku masih merintih mengharap hadirmu
Ia terus meronta memimpikan bayangmu
Mengharap melawan sang waktu untuk kembali ke masa itu
Menghapus kesalahan-kesalahanku
Sehingga bukan hanya kenangan yang tersisa untuk masa depan, namun langkah yang cerah bersamamu
Bukan hanya kekecewaan yang meraung raung menggerogoti kalbu, namun peluk mesra dalam dekapanmu

Tak sanggup ku melawan sang waktu
Pun ku tak berani menanyakan kabarmu
Apalagi meminta hadirmu di sampingku
Hanya semoga yang kulayangkan dalam doa-doaku
Semoga kebahagiaan melingkupi dan terus mendampingimu selalu

Aku akan tetap di sini, menantimu
Datanglah, jika kau sedang sendu atau pun rapuh
Sapalah, meski hanya menanyakan kabarku
Dan ingatlah aku, meski aku hanya sekadar temanmu

Surakarta, 14 Februari 2019